Merawat Tradisi, Menumbuhkan Inovasi, Mengembangkan Literasi, Mandiri Ekonomi, Mencintai NKRI
Tampilkan postingan dengan label Amaliyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amaliyah. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 07 September 2019
Himbauan Amaliyah 10 Muharram 1441 H
Himbauan amaliayah tanggal 10 Muharram 1441 H. Serta amaliah dan bacaan doa untuk menyambut tanggal 10 Muharam 1441 H dapat di unduh disini
Rabu, 28 Agustus 2019
Amaliah Bulan Muharram
Pada akhir waktu ashar di hari terakhir bulan dzulhijjah dianjurkan untuk membaca do’a akhir tahun, dan do'a awal tahun serta amaliah-amaliah yang dianjurkan oleh palara ulama'. Do'a dan amaliah bulan Muharram dapat di unduh disini
Sabtu, 09 Maret 2019
Riwayat Sholawat Badar
PENGGUBAH
SHOLAWAT BADAR ITU SANTRI LIRBOYO
Shalawat Badar
sangat familiar di kalangan nahdliyin (warga Nahdlatul Ulama). Di
hampir seluruh kegiatan Nahdlatul Ulama, shalawat ini selalu didengungkan.
Berikut sebagian teks Shalawat Badar:
صَـلاَةُ
اللهِ سَـلا مُ اللهِ * عَـلَى طـهَ رَسُـوْلِ اللهِ
Shalaatullaah
Salaamul laah ‘Alaa Thaaha Rasuulillaah
Rahmat dan
keselamatan Allah, semoga tetap untuk Thaaha* utusan Allah
صَـلا
ةُ اللهِ سَـلا مُ اللهِ * عَـلَى يـس حَبِيْـبِ اللهِ
Shalaatullaah
Salaamullah ‘Alaa Yaa Siin Habiibillaah
Rahmat dan
keselamatan Allah, semoga tetap untuk Yasin* kekasih Allah
تَوَ
سَـلْنَا بِـبِـسْـمِ اللّهِ * وَبِالْـهَادِى رَسُـوْلِ اللهِ
Tawassalnaa
Bibismi llaah Wabil Haadi Rasuulillaah
Kami berwasilah
dengan berkah “Basmalah”, dan dengan Nabi sang Petunjuk, lagi utusan Allah
وَ
كُــلِّ مُجَـا هِـدِ لِلّهِ * بِاَهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
Wakulli
Mujaahidin Lillaah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
Dan dengan
berkah seluruh orang yang berjuang karena Allah, sebab berkahnya para sahabat
yang berjuang dalam perang Badar ya Allah.
Shalawat Badar
digubah oleh Kiai Ali Mansur Banyuwangi. Beliau adalah salah seorang cucu dari
KH. Muhammad Shiddiq Jember. Syair itu digubah pada era 60-an. Saat itu, Kiai
Ali Mansur menjabat Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi, sekaligus
menjadi Ketua PCNU di tempat yang sama.
Proses
terciptanya Shalawat Badar tidaklah seperti terciptanya syair pada umumnya.
Pada suatu malam, Kiai Ali Mansur tidak bisa tidur. Ia terus dirundung gelisah.
Pasalnya, situasi negara dan masyarakat Indonesia terbilang carut marut.
Apalagi, situasi politik yang ada semakin tidak menguntungkan Nahdlatul Ulama,
yang saat itu masih menjadi partai politik, bukan organisasi kemasyarakatan
seperti sekarang.
Orang-orang
PKI, yang menjadi lawan utama NU dalam ranah politik, semakin leluasa
mendominasi kekuasaan. Bahkan, mereka dengan terang-terangan ingin memusnahkan
NU dengan melemahkan posisi kiai-kiai di pedesaan. Bahkan membunuh para kiai
itu. Ini tidak lain didasari fakta bahwa para kiai inilah yang dengan sekuat
tenaga membendung virus ideologi yang disebarkan PKI.
Kegelisahan
Kiai Ali Mansur ini bertambah masygul. Di malam sebelumnya, beliau bermimpi
didatangi para habib berjubah putih-hijau. Semakin mengherankan lagi, karena di
malam yang sama istrinya bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ.
Keesokan
harinya, beliau segera sowan kepada salah satu ulama besar ketika itu, Habib
Hadi Al-Haddar Banyuwangi. Ditanyakanlah perihal mimpi itu, “Itu Ahli
Badar, ya Akhy,” jawab Habib Hadi.
Peristiwa aneh
ini kemudian menginspirasi beliau untuk menggubah syair. Perlu diketahui,
beliau adalah ulama yang sangat mahir dalam menggubah syair. Kemahiran ini
beliau peroleh saat masih nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo. yang
kemudian dikenal dengan Shalawat Badar.
Sambil
merenung, Kiai Ali Mansur terus memainkan penanya diatas kertas, menulis
syair-syair dalam bahasa arab. Beliau memang dikenal mahir membuat syair sajak
ketika masih belajar di Pondok Pesantren Lirboyo. Di pesantren ini, beliau
mengenal ilmu ‘arud, sebuah ilmu yang khusus mempelajari rumus-rumus syair Arab
yang rumit. Hingga sekarang, pelajaran ini menjadi bahan ajar wajib bagi santri
Pondok Pesantren Lirboyo.
Peristiwa aneh
ini ternyata tidak berhenti. Keesokan harinya, tetangga sekitar rumah berbondong-bondong
menuju rumah beliau. Mereka membawa beras, daging, sayur mayur dan lain
sebagainya, seperti akan ada hajat besar di rumah beliau. Saat ditanya mengapa
mereka bertingkah demikian, jawaban yang ada juga mengherankan. Mereka
bercerita, bahwa di pagi-pagi buta, pintu rumah masing-masing dari mereka
didatangi orang berjubah putih. Ia memberi kabar, bahwa di rumah Kiai Ali
Mansur akan ada kegiatan besar. Mereka diminta membantu. Maka, mereka pun
membantu sesuai dengan kemampuannya.
“Siapa orang yang
berjubah putih itu?”Pertanyaan itu terus mengiang-ngiang dalam benak Kiai Ali
Mansur tanpa jawaban. Di malam harinya, para tetangga itu bekerja di dapur
untuk mengolah bahan-bahan yang telah terkumpul siang tadi. Sampai malam itu
pula, tidak ada satupun orang yang tahu, masakan yang mereka buat untuk acara
apa.
Hingga kemudian
menjelang matahari terbit, datanglah serombongan berjubah putih-hijau. Usut
punya usut, mereka adalah rombongan habib yang dipimpin oleh Habib Ali bin
Abdurrahman al- Habsyi, Kwitang, Jakarta.
“Alhamdulillah,” kiai
Ali Mansur sangat bergembira dengan kedatangan rombongan itu. Mereka adalah
rombongan para habaib yang sangat dihormati oleh keluarganya. Setelah
berbincang basa-basi sebagai pengantar, membahas perkembangan PKI dan kondisi
politik nasional yang semakin tidak menguntungkan, Habib Ali Kwitang menanyakan
topik lain yang tidak diduga oleh Kiai Ali Mansur, “Ya Akhy! Mana syair
yang ente buat kemarin? Tolong ente bacakan dan lagukan di
hadapan kami-kami ini!”
Tentu saja Kiai
Ali Mansur terkejut, sebab Habib Ali tahu apa yang dikerjakannya semalam tanpa
siapapun yang memberitahu beliau. Namun ia memaklumi, itulah karomah yang
diberikan Allah kepadanya.
Segera saja
Kiai Ali Mansur mengambil kertas yang berisi Shalawat Badar hasil gubahannya
semalam, lalu melagukannya di hadapan para tamu. Suara Kiai Ali Mansur yang
merdu, membuat alunan suara Shalawat Badar sangat dinikmati oleh para Habaib.
Mereka mendengarkannya dengan khusyuk, hingga meneteskan air mata karena
haru. Selesai mendengarkan Shalawat Badar yang dialunkan oleh Kiai Ali Mansur,
Habib Ali Kwitang segera bangkit. “Ya Akhy! Mari kita perangi
genjer-genjer PKI itu dengan Shalawat Badar!” serunya dengan nada mantap.
Sejak saat itu,
Shalawat Badar perlahan menjadi semacam bacaan wajib bagi warga NU untuk
membangkitkan semangat melawan orang-orang PKI. Untuk lebih mempopulerkannya,
Habib Ali mengundang para habib dan ulama (termasuk Kiai Ali Mansur dan KH.
Ahmad Qusyairi, paman Kiai Ali Mansur) ke Jalan Kwitang, Jakarta. Di forum
istimewa itulah Shalawat Badar dikumandangkan.
Riwayat Sholawat Asyghil
RIWAYAT
SHOLAWAT ASYGHIL
Bacaan
sholawat, atau doa dan pujian yang kita panjatkan kepada Allah untuk Nabi kita,
Rasulullah saw. ada banyak macamnya. Dari yang diajarkan Nabi sendiri hingga
yang digubah oleh para ulama. Salah satunya adalah “Shalawat Asyghil“.
Sholawat ini dahulu amat akrab di telinga kaum muslimin karena sering terdengar
dari masjid-masjid dan mushola-mushola menjelang maghrib. Selain itu, langgam
pengucapan sholawat ini juga sangat enak di dengar di telinga.
Sholawat ini
menemukan momentum di kala kaum muslimin sedang dalam suasana genting. Isi dan
sejarah sholawat asyghil (sibuk) akan kita cermati di bawah ini.
Konon Sholawat
tersebut dipanjatkan oleh Imam Ja’far ash-Shadiq (wafat 138 H), salah seorang
tonggak keilmuan dan spiritualitas Islam di awal masa keemasan umat Islam.
Beliau hidup di akhir masa Dinasti Umawiyyah dan awal era Abbasiyyah yang penuh
intrik dan konflik politik. Bagi beliau, kekacauan politik tak boleh sampai
mengganggu proses pelestarian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Saat itu, ilmu
pengobatan, geografi, astronomi, kimia, sastra, mulai berkembang dan diminati.
Maka di setiap Qunut, beliau berdo'a sebagaimana do'a yang ada dalam redaksi
Sholawat tersebut .
Sholawat
‘Asyghil’ ini juga dikenal dengan sebutan Sholawat ‘Habib Ahmad bin Umar
al-Hinduan Baalawy’ (wafat 1122 H). Dikarenakan sholawat ini tercantum di dalam
kitab kumpulan sholawat beliau, ‘al-Kawakib al-Mudhi’ah Fi Dzikr al-Shalah Ala
Khair al-Bariyyah’. Namun beliau hanya mencantumkan, bukan mengarang redaksinya.
Dan silsilah hingga kepada Beliau sebagai berikut:
1.
Sulthān
al-'Ulamā' al-Habīb Sālim ibn 'Abdullāh ibn 'Umar al-Syāthirī al-Tarīmī,
2.
Dari
al-'Allāmah al-Sayyid Musthafā ibn Ahmad al-Muhdhār,
3.
Dari al-Imām
al-Akbar al-'Ārif al-Asyhar al-Sayyid 'Aidrūs ibn 'Umar ibn 'Aidrūs al-Habsyī,
4.
Dari
al-'Allāmah al-Musnid al-Syaikh 'Abdullāh ibn Ahmad Bāsūdān al-Hadhramī,
5.
Dari al-Sayyid
al-Imām Hāmid ibn 'Umar Hāmid Bā'alawī al-Tarīmī,
6.
Dari al-Imām
Ahmad ibn 'Umar al-Hindwān
Sholawat ini
pertama kalinya dipopulerkan di Indonesia melalui pemancar radio milik Yayasan
Pesantren As-Syafi’iyyah yang diasuh ulama besar Betawi, almarhum KH Abdullah
Syafi’i (wafat 1406 H). Sholawat ini dibawakan dengan nagham (nada) yang sangat
menyentuh hati, indah didengar dan terasa sejuk di hati pembaca dan
pendengarnya.
Hikmahnya,
seolah ummat Islam tengah difilter dan diuji keimanannya. Rasa iman yang masih
ada mendorong untuk melakukan “perlawanan” dalam setiap kezaliman.
Salah satu
senjata yang diandalkan oleh kaum muslimin adalah doa. Jangan remehkan doa kaum
muslimin yang terzalimi ditambah lagi dengan sholawat nabi, menuntut Sang
Pencipta untuk segera mengabulkannya.
Kuperhatikan,
tak lama beredarnya anjuran untuk sholawat asyghil, tokoh-tokoh yang selama ini
getol ingin menyerang islam (islamophobia), selalu sibuk dengan aib-aibnya yang
terbuka. Makar (konspirasi) untuk merusak dan memecah kekuatan kaum muslimin,
langsung dibalas dengan tunai oleh Allah, dalam sebuah kegagalan konspirasi
mereka.
Metode belah
bambu, dengan meninggikan satu kelompok muslim dan menginjak kelompok muslim
yang lain, selalu berakibat dengan terbongkarnya aib sang tokoh yang
ditinggikan. Bahkan tak sedikit, followenya mulai cerdas dan meninggalkan
pemimpin yang mulai asyik dengan godaan dunia. Bagi tokoh-tokoh yang “diinjak”
selalu mendapat pembelaan ummat dan semakin harum dengan keikhlasannya dalam
dakwah Islam. Ummat semakin tahu mana yang dakwah kepada islam dan sebaliknya.
Ini lafadz
Sholawat Agung Tersebut
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَشْغِلِ الظَّالِمِيْنَ بِالظَّالِمِيْنَ وَأَخْرِجْنَا
مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِيْنَ وَعَلَي الِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
Ya Allah, limpahkanlah Rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, dan
sibukkanlah orang-orang zhalim (agar mendapat kejahatan) dari orang zhalim
lainnya,keluarkanlah kami dari kejahatan mereka dalam keselamatan dan
berikanlah sholawat kepada seluruh keluarga Nabi serta para sahabat beliau.
Marilah kita
bantu kaum muslim yang tengah terdalimi. Kita amalkan sholawat ini, dan ketika membaca
doa yang ditengahnya maka bayangkanlah wajah-wajah pelaku kezaliman tersebut.
Insyaallah, perhatikan tak lama maka kita bisa saksikan ornag-orang tersebut
saliang bertikai dengan masalah-masalahnya sendiri saling menuding terlibat
korupsi. Saling menuding menjadi pembohong dan ada saja masalah-masalah
diantara mereka.
Ada juga yang
menyebutnya dengan nama Sholawat Zhalimin, Sholawat Salimin, Sholawat Sibuk,
Shalawat Mlipir, dan lain-lain.
Pada satu
kesempatan Prof. K.H. Ali Yafie pernah ditanya, apa yang beliau ketahui tentang
Shoalawat ini. Menurut beliau, salawat itulah yang digelorakan oleh Ulama-ulama
Shūfī dunia Arab khususnya Iraq tatkala Iraq diluluhlantakan oleh pasukan
Mongol Hulagu Khan.
Sejarah
mencatat, pada tahun 1258M, lebih dari 200 ribu tentara Mongol menyerbu Iraq
serta menumbangkan kekuasaan Bani Abbasiyyah, bahkan khalifahnya yaitu
Al-Mus’tasim dipenggal kepalanya.
Mengerikan
sekali. Bukan hanya istana yang dihancurkan, tapi seluruh bangunan di Baghdad
diratakan dengan tanah, seluruh warga kota dibunuh, kecuali segelintir yang
berhasil meloloskan diri, semua buku-buku perpustakaan terbesar di dunia,
dimusnahkan dan dibuang ke Sungai Tigris, sampai-sampai air sungai berwarna
hitam oleh tintanya.
Praktis pada
masa itu Asia Tengah dikuasai Mongol dan
tentara Islam hancur. Di saat seperti itulah bangkit para pahlawan Tasawuf.
Mereka mengorganisir kelompok-kelompok gerilyawan dan bersama Pasukan Mameluk
dari Mesir, hingga berhasil membendung ekspansi Pasukan Mongol, bahkan untuk
pertama kalinya mengalahkan mereka dalam pertempuran dahsyat yang dikenal
sebagai Pertempuran Ain Jalut di Palestina pada 3 September 1260.
Sungguh Allah
Maha Adil, Hulagu Khan yang menghancurkan kekhalifahan Islam dan kemudian
mendirikan Dinasti Ilkhan, sang cucu Ahmad Teguder, yang menjadi raja ke-3
dinasti tersebut, justru memeluk Islam, sayang sekali ia hanya berkuasa selama
dua tahun (1282-1284) karena dibunuh oleh saudaranya.
Alhamdulillah,
Raja ke-7 yaitu Ghazan (1295-1304), memeluk Islam menjadi Mahmud Ghazan. Mulai
periode kekuasaannyalah, posisi umat Islam kembali memperoleh keleluasaan, dan
peradaban Islam dibangun kembali meski harus mulai dari nol lagi.
Dalam masa-masa
kritis seperti itu, tatkala kekuatan militer secara formal tidak berfungsi,
para pahlawan sufi tidak berpangku tangan, tapi terjun langsung ke masyarakat
mengorganisir serta menggelorakan semangat juang sambil mengumandangkan
shalawat ini.
Spirit dari
redaksi Sholawat dan latar belakang kisahnya "klop" dengan kondisi
Indonesia dewasa ini, orang-orang zhalim biarlah mereka bertarung dengan
sesamanya, jangan sampai Umat dan para Ulama menjadi korban mereka, seperti
kata pepatah "Gajah Bertarung Sama Gajah Pelanduk Mati Di
Tengah-Tengah".
Langganan:
Postingan (Atom)