Sabtu, 18 April 2020

Cerpen Santri


SEBUAH NAMA

Sudah lama hal ini kunanti-nantikan, kalau gak salah sejak dulu sewaktu masih duduk di bangku semester tiga, yaitu sebuah keinginan untuk menjadi pembicara pada acara seminar atau debat-depat tentang isu kontekstual di negeri ini. Namun pada perjalanan waktu akhirnya keinginan-keinginan itu makin hilang, memang hal itu menjadi mimpi-mimpiku namun aku juga harus memahami kenyataan, yah kenyataan kapasitas ilmuku juga belum ada seberapanya dengan tokoh-tokoh hebat yang sering mengisi acara seminar di kampusku.
Pernah juga aku menjadi delegasi dari organisasiku ke Jakarta untuk mengikuti acara seminar internasional, betapa kagum melihat penampilan tokoh-tokoh Indonesia yang tidak henti-hentinya mengkritisi apa saja yang terjadi di indonesia pemaparan teorinya benar-benar menunjukkan kalau mereka adalah orang pintar, yah orang pintar milik kita semua. Seketika itu aku sangat ingin seperti mereka. Menjadi orang pintar, sering mengisi seminar atau pelatihan-pelatihan, dihormati banyak orang, tentu banyak orang yang ngefan pada saya, barang kali untuk mencari cewekpun juga sangat gampang.
Namun pada kenyataanya kalaupun saya diundang oleh kawan-kawan mungkin hanya mengisi pelatihan-pelatihan kecil di kampusku, yang paling sering biasanya bertempat di gunung-gunung, pelatihan advokasi, analisa sosial dan lain-lain. Aneh juga sih, kita mendiskusikan sosial tapi malah bertempat di pegunungan yang jauh dari permukiman sosial, kadang aku elus dada sendiri. Hal itu nampaknya sudah tidak berbekas lagi ketika aku lulus dari kuliyah, karena aku lebih menikmati menjadi guru biasa saja.
Sudah hampir tiga puluh lima tahun aku tidak punya keinginan menjadi orang pinter seperti yang sering kulamunkan dulu ketika masih kuliyah, namun beberapa minggu yang lalu temanku yang tinggal di Jakarta tiba-tiba datang mengundangku untuk menjadi nara sumber pada acara seminar dan dialog terbuka, aku hanya tertawa melihat kekonyolan temanku. Memang kita jarang ketemu kecuali hanya lewat Email. Katanya aku sangat cocok untuk menjadi pemateri dalam acara itu, begitulah kawanku berkali-kali mencoba meyakinkanku.
“ayo dong kawan, kamu kan sudah lulus S2, dan paham tentang liberalisasi pemikiran Islam, masak mau melewati kesempatan ini” kata temanku.
Memang sejak kita sama-sama lulus kawanku melanjutkan studynya ke Jakarta dan sekarang ia memimpin sebuah LSM yang bergerak pada bidang pemikiran Islam. Seingatku dulu waktu menjelang lulus aku pernah mengusung gagasan islam leberal ke kampusku, terang saja kampusku menjadi geger, namun hal itu tidak kuperpanjang karena saya harus cepat-cepat lulus.
Akhirnya atas masukan dan restu istriku tercinta, kuikuti tawaran kawanku itu, dan besok tanpa persiapan apapun aku harus pergi ke Jakarta untuk menjadi pembicara pada acara seminar dan dialog terbuka, sebuah keinginan yang dulu pernah kuidam-idamkan.
Di jakarta sementara waktu aku tinggal di rumah temanku, karena acara seminarnya masih tiga hari lagi, sebenarnya aku akan diinapkan di hotel, namun aku sendiri memaksa untuk tinggal dirumah temanku. Bukannya aku gak ingin hidup mewah untuk tinggal di hotel, tapi aku sendiri kurang sreg jika harus tinggal layaknya orang kaya.
Temanku hanya tinggal dengan istrinya maklum sejauh ini mereka belum dikaruniai anak, istrinya adalah dosen di perguruan tinggi terkenal di Jakarta, rumahnya besar layaknya orang kaya, memang mereka kaya, pagi-pagi rumah sudah kosong karena suami istri itu harus beraktifitas sampai sore bahkan sampai malam hari, kadang juga tidak pulang sampai bebeapa hari. Yah itulah hidup di kota besar dan resiko menjadi orang pintar, banyak job dimana-mana kadang waktu untuk istri juga tersita karena kesibukan kita.
Aku sendiri bingung harus berbuat apa di rumah sedemikian besarnya, mau keluar tidak tahu jalan, disana-sini bangunan begitu mencurang entah untuk apa mereka membangun bangunan setinggi itu, jutaan kendaraan membanjiri jalan-jalan. Kucoba iseng-iseng untuk keluar yang jelas bukan mencari angin segar, karena angin semuanya sudah perpolusi, aku singgah ke sebuah depot kecil samping rumah temanku kulihat daftar menu dan harganya, aku elus dada sendiri, makanan yang paling murah adalah ayam goreng dengan harga dua puluh lima ribu “di kampungku harga segini sudah dapat ayam utuh” pikirku. Tentunya bukan penjualnya yang salah dalam menentukan harga toh para pembeli juga banyak yang datang.
Hari berikutnya aku hanya bermalas-malasan dirumah temanku, tidak ada aktifitas lagi yang kukerjakan kecuali nonton TV. Kuhabiskan waktuku untuk nonton TV tanpa harus berebutan chenel dengan anak istriku, biasanya kalau dirumah, kami sering berebut acara yang masing-masing kami sukai. Tapi kalau nonton sendiri sepertinya lebih khusuk, mau tertawa, mau menangis, mau berteriak tidak ada yang mengganggu. Namun sebentar aku sudah jenuh. Repot juga jadi orang tidak punya aktifitas pikirku.
Hari ketiga aku benar-benar kehabisan acara untuk mengisi waktu nganggurku, tiba-tiba terlintas dipikiranku untuk keruangan temanku, karena pesannya padaku kalau ingin baca-baca buku silahkan pergi ke lantai dua, ruangan paling ujung banyak buku baru disana. Dari pada tidak ada aktivitas aku menuju ruangan situ, itung-itung persiapan buat acara diskusi besok. Ruangan kecil berdiameter lima meter persegi dengan ratusan buku tertata rapi aku bingun sendiri mana yang harus ku baca, mengingat buku yang sedemikan banyaknya.
Nampaknya mataku tertuju pada koleksi album foto milik temanku yang terletak di sudut paling ujung diantara puluhan buku yang lain. Ku buka halam pertama foto-foto temanku sendiri dengan beberapa tokoh Nasional, aku sendiri tidak begitu tertarik untuk melihatnya, halaman berikutnya masih foto-foto yang sama, tiba-tiba aku berhenti pada halaman yang kubuka kini. Yah ...fotoku sendiri dengan Nasiah Mahanani yang nampak tesenyum penuh arti, foto yang diambil puluhan tahun yang lalu, seingatku sewaktu selesai acara pelatihan dikampusku dulu, tiba-tiba pikiranku seakan-akan membawa pada masa lalu dengan gadis itu.
Hana ....yah Hana nama panggilan gadis itu, sebuah nama yang sangat langka di negeri ini dan kepribadian yang cukup langka juga dengan gadis seperti Hana, pikiranku kini benar-benar masuk pada memori masa silam, sambil terus kupandangi foto kita berdua yang nampak bahagia, dan akupun mulai seyum-seyum sendiri.
“kamu benar bisa mengantarku besok?” tanya Hana padaku saat ia keluar dari kelasnya. Setelah kemarin ia meneleponku untuk memintaku mengantarkannya pada undangan diskusi di kampus lain yang jaraknya cukup lumayan jauh, sehingga untuk kesana harus naik bus atau kereta.
“iya bisa” jawabku singkat, namun dengan keyakinan yang luar biasa dalam hatiku.
“aku harus jemput kamu jam berapa?” tanyaku lebih meyakinkan kalau aku benar-benar siap mengantarnya.
“gimana kalau kita bertemu di stasiun saja jam 8?” Hana berkata padaku sambil memasukkan bukunya dalam tas.
“Gak ah, aku langsung jemput kamu saja di pondokmu, sekalian aku izinkan sama pengasuhnya kebetulan aku kenal akrab sama beliau”
“Oke, saya lebih suka kalau gitu, kita bertemu jam tuju tepat. Kamu sudah bangun kan. Malam ini jangan berkadang lagi sampai subuh ya. Jaga kesehatan kamu!” jawabnya pada ku penuh perhatian.
Dan kitapun berpisah, sepertinya malam ini aku tidak bisa tidur, dalam hatiku terus menunggu esok hari, menunggu saat aku pergi bersama Hana, mengingat bagiku jarang sekali Hana pergi dengan lawan jenis berduaan bahkan tidak pernah, kalaupun ia pergi ke kampus lain ia mesti bersama teman-temannya baik itu laki-laki atau perempuan minimal ada tiga orang, itu yang aku ketahui dari dia, meski ia aktifis gender yang paling kritis, nampaknya sendi-sendi keagamaan masih ia pegang teguh.
Semoga saja Hana benar-benar sendirian ingin pergi denganku tidak bersama teman-temannya sehingga aku bisa mengutarakan apa yang ada dihatiku pada Hana, sejujurnya aku sangat mengininkan itu, karena belum pernah aku jalan berduaan sama Hana. Dasar do’a konyol.
Memang slama ini aku sendiri jarang bertemu dengan Hana, karena aktifitasku dan aktifitasnya lumayan padat, kalaupun kita bertemu mungkin dalam acara-acara kampus itupun selalu ramai-ramai. Pribadinya yang anggun wajahnya yang cantik dan kecerdasanya membuat kawan-kawan yang lain betah jika harus berlama-lama ngobrol dengan nya, namun kadang-kadang kami juga sungkan, mengingat ia sendiri tidak pernah menampakkan kesombongan dalam bertutur kata, lembut, kelem tapi tegas. Aku sendiri sebenarnya juga sama dengan kawan-kawan yang lain merasa diperhatikan istimewa oleh Hana, karena ia selalu baik dengan kawan-kawan yang lain. Jadi aku tidak berani menyimpulkan kalau Hana memendam rasa spesial padaku. Tapi hari ini ia memilihku sebagai pendamping untuk pergi ke luar kota yang cukup jauh, jangan-jangan ia memang memendam rasa spesial padaku.
Jujur kukatakan kalau ia sendiri bagiku adalah spesial dan istimewa mulai dari namanya, wajahnya, bentuk tubuhnya, kepandaianya bagiku semua adalah istimewa. Namanya tidak ada yang menyamai di kampus ini, wajahnya cantik, penampilannya sederhana, bicaranya tegas tapi lembut. Dan yang membuatku benar-benar kesemsem adalah penuh perhatian dan sangat baik padaku. Namun dengan sifatnya yang demikian nampaknya bagiku dan mungkin dengan teman yang lain merasa sungkan jika harus mengutarakan kata sayang padanya. Nyatanya aku benar-benar tergila-gila padanya, dibenakku berfikir kalau besok benar-benar ia sendiri dan waktunya tepat, apa sebaiknya kuutarakan saja perasaanku padanya? Tapi kalau ia tidak berkenan apa ia masih bersikap baik dan perhatian padaku?
Pagi-pagi itu dengan tepat waktu aku sudah tiba dipondok Hana untuk sowan kepada Embah yai, dahsyat juga rasanya jatuh cinta. Biasanya kalau jam segini aku masih khusuk berada di alam mimpi di kontraanku. Setelah embah yai mengizinkan nampaknya Hana sendiri juga sudah siap dengan seperangkat bekal yang ia bawa dengan teman-temannya menuju gerbang.
Ku hampiri Hana yang sudah menungguku, nampaknya kawan-kawan yang lain mengerti apa yang harus mereka lakukan, mereka kembali ke pondok dan sekarang aku berdua dengan Hana untuk menuju Stasion terdekat. Aduhai betapa bahagianya aku jalan berduaan dengan Hana seperti layaknya kekasih yang ingin pergi kencan saja. Pikirku. Berarti doa konyolku semalam benar-benar di kabulkan oleh tuhan.
Di dalam kereta kami benar-benar seperti dua kekasih yang akan pergi piknik. Kebetulan kereta juga cukup sepi, tidak seperti saat lebaran atau hari besar lainnya, yang harus ngantri sedemikian ribetnya dalam memilih tempat duduk, logikanya kalau negara benar-benar memperhatikan masalah transportasi mungkin tidak ada lagi keruwetan dalam mudik saat hari raya, mengingat setiap tahun pasti kita kedatangan masalah yang sama. Tapi biarlah kali ini ingin ku buang jauh-jauh saja pikiran nakalku tentang problematikan negara, bukankah ada yang jauh lebih penting tentang perasaanku pada seorang gadis yang sedang duduk dihadapanku.
“Pemandangannya bagus juga ya Mut?” tiba-tiba suaranya memecahkan kesunyian sambil ia pandangi sawah-sawah terbentang luas yang kita lewati
“ iya bagus sekali” jawabku agak terbata-bata, karena merasa gugup, memang tidak biasa aku segugup ini, mungkin karena aku hendak memulai perbincangan yang mengarah pada perasaanku, mengingat inilah waktu dan tempat yang tepat untuk mengutarakan rasa sayangku pada Hana.
Kami hanya diam, hanya deru kereta yang menderu dan meliuk-liuk suaranya namun aku tak menghiraukannya, biasanya aku lebih senang menikmati pemandangan sawah-sawah dan hutan-hutan saat naik kereta sambil kuliarkan pikiranku menghakimi negara yang tidak kunjung mensejahterakan rakyatnya padahal ladang dan kebuh sedemikian suburnya. Biarlah itu semua, itu adalah tugas orang-orang pintar. Pikirku. Kali ini aku hanya ingin merasakan perasaanku pada Hana yang sudah sejak tadi berada di depanku mungkin ia sendiri menunggu kata-kata dari ku atau ia sendiri sengaja mengujiku keberanianku.
Akupun terus memandangi wajahnya, seakan-akan mata ini merasa krasan jika harus berlama-lama memandangi wajahnya, kulitnya yang tidak begitu putih namun bersih, matanya yang memancarkan kasih sayang, bibirnya yang kebasah-basahan meski tanpa lipstik, benar-benar menampakkan kesempurnaannya. Mata kita sesekali berpandangan aku sendiri sedikit gugup dan malu jika mata ini saling bertatapan.
Wajanyapun tiba-tiba berubah-ubah, sesekali ia nampak cantik dan manja, sesekali nampak alim dan berwibawa, sesekali nampak manis dan jenaka, sesekali nampak malu dan terkesima. Aku yakin kalau ia sebenarnya tahu kalau sedang kuperhatikan, namun isyaratnya seakan-akan ia terus menghindar dariku. Sesekali ia seperti sibuk memandangi jendela luar kereta, sesekali sibuk membenahi jilbabnya, sesekali sibuk mencari-cari sesuatu pada tasnya.
“aku membawa makanan kecil untuk mu? Katanya saat mata ini saling bertatapan “kamu mau? atau kamu mau minun?”
“nanti saja” jawabku lembut, ngapain mikir makanan dan minuman ada yang lebih nikmat disini. Padahal biasanya untuk urusan makan dan minum aku gak pernah absen menolak.
Kami diam lagi, sambil terus kupandangi wajah itu, aroma tubuhnya yang khas, stasion demi stasioan kita lewati, hanya diam dan diam, aku sendiri sepertinya merasa sangat sungkan dengan pikiranku sendiri, dengan perasaanku sendiri, apalagi pada Hana, sungkan dan campur malu. Yah inilah yang sebaranya kurasakan.
“kok tumben sejak tadi kamu gak merokok?” tanyanya padaku saat mata ini bertemu untuk kesekian kalinya.
“aku lagi gak mut rokok” jawabku, aneh juga kenapa aku gak kepikiran untuk merokok biasanya itu yang sering kulakukan jika sedang berfikir, meski Hana sendiri pernah mengkritikku secara halus untuk berhenti merokok, pada saat itulah aku sendiri sungkan jika merokok dekat dengan dia.
Kitapun diam lagi dengan waktu yang cukup lama, padahal perjalanan masih jauh, “ayolah kau utarakan saja perasaanmu pada Hana jangan sampai kau kehilangan kesempatan ini, bukankan ia juga sangat baik padamu” pikiranku sejak tadi menghakimiku untuk secepatnya mengutarakan padanya tentang perasaanku, namun seakan-akan mulut ini terkunci untuk mengutarakannya.
“Kamu menyukaiku ya?” tiba-tiba suaranya yang lembut menbuyarkan pikiranku, seperti sedang disambar petir seketika hatiku kaget mendengar pertanyaanya yang seakan-akan menelanjangi apa saja yang sedang ku pikirkan.
Dahsyat, seakan-akan ia tahu apa yang sedang kurasakan, kali ini aku sendiri yang gugup dan salah tingkah, namun ku katakan dengan sejujurnya padanya meski agak sedikit terbata-bata “iya aku menyukaimu sejak dulu”.
Dan aku sendiri tidak menyangka, ia ulurkan tangannya yang lembut penuh kewibawaan, ia genggam kedua tanganku sambil tersenyum manis penuh arti, ia tatap mataku penuh kewibawaan sambil berkata “terimakasih ya Mut”
Aduhai betapa bahagianya aku, kupejamkan mataku sambil menikmati kebahagiaan yang menjalar pada perasaanku masuk pada sendi-sendi hati dan otakku, kebahagiaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Tiba-tiba suara istri dan temanku membuyarkan lamunanku sejak tadi, nampaknya mereka sudah datang, kututup foto gadis itu yang tersenyum manis bersamaku, sambil ku sudahi lamunanku.
Kali ini aku makan malam bersama temanku dan istrinya, ternyata aku masih ingin melanjutkan lamunan indahku, singkat kata kenangan masa laluku dengan Hana. Yah... teman kuliah yang sampai saat ini belum tahu keberadaanya, yang jelas setelah ia lulus ia langsung melanjutkan studinya ke luar Negeri tanpa memberi tahu kabarnya padaku, bahkan sampai sekarangpun aku sendiri juga belum pernah tahu persis perasaanya padaku. Mengingat ia selalu baik pada siapapun, ia sendiri juga perhatian pada seluruh teman-temanku.
Setiap kali aku melihat kelembutannya padaku, aku benar-benar merasa keGRan, setiap kali ia berlaku baik padaku aku sendiri juga merasa kePDan, namun dibalik itu ia juga baik pada teman-temanku yang lain, juga lembut pada siapapun yang menjadi temannya.
Bahkan sampai aku hendak melakukan pernikahan dengan istriku, ia masih saja berlaku baik, katanya ia tahu kalau aku hendak menikah dari temannya, waktu itu aku sendiri tidak tahu apakah ia sudah pulang dari luar negeri atau masih di luar negeri yang jelas ia mengirimkan kado dan surat padaku, seingatku isi surat itu adalah ia sendiri sampai saat ini belum menikah dan dalam surat itu ia ceritakan kembali perjalanan kita dengan naik kereta kala itu, meskipun aku sendiri menyatakan menyukainya, namun ia malu dan ragu kalau harus berterus terang padaku karena aku sendiri juga sangat baik kepada siapapun. Pengakuannya itu ia tutup dengan ungkapan yang tidak biasa tapi romantis. “izinkan aku mengatakan ini padamu untuk pertama dan terakhirkalinya sebuah perasaan yang sejak dulu ingin sekali aku katakan padamu dan sampai sekarang masihku pendam dalam sanubari hatiku yang paling dalam “kekasihku aku sangat mencintaimu”. Ternyata perasaan dan sikap kita sama.
Pagi ini adalah saat-saat dimana aku pertama kali menjadi pemateri dalam seminar dan dialog terbuka di Ibu Kota meski belum setingkat Nasional, wah benar-benar suatu kehormatan jika harus duduk bersama dengan orang-orang pintar di negara ini. Kali ini panitia sengaja menghadirkan empat nara sumber yaitu dari tiga kubu yang berlainan pandangan. Satu dari golongan islam fundamental yang diharidiri oleh dua orang yang sudah cukup sepoh dengan jenggot panjang memakai serban, teriakan-terikan Allah Huakbar menggema diruangan ini menciutkan nyaliku sendiri mengiringi kedua pemateri itu naik mimbar. Dari kubu katanlah liberal adalah aku sendiri yang sengaja didatangkan dari kota lain karena ingin terlihat ada penyegaran pemikiran dan wajah-wajah baru, karena cukup sulit juga mencari pembicara tentang islam Liberal di jakarta kecuali wajah-wajah lama, meski aku sendiri juga masih perlu kajian panjang jika harus mengutarakan pikiran-pikiran liberalku jika aku tidak ingin mati konyol. Dan kubu yang ketiga adalah dari pengamat keberagamaan yang diwakili oleh seorang perempuan. Entahlah apa seberannya keunikan dari mengamati agama seseorang, bagiku agama cukup dipahami dengan akal dan diamalkan dengan hati, itu saja.
Aku sendiri sempat kehilangan nyali kalau harus berhadapan dengan dua orang berjenggot itu, mirip orang arap juga.
Ia mengutarakan apapun yang ada dinegara ini adalah salah, bahkan mereka seenakknya menyatakan kesesatan, sepertinya mereka adalah juru sesat, yang berhak mensetempel aliran ini sesat dan harus dibumi hanguskan, bukan hanya boleh dirusak tempat ibadahnya bahkan boleh juga mereka yang sesat itu di bunuh. Naudzubillah. Teriakan Allahu Akbar terus menggema saat orasi keagamaan yang menggebu seakan-akan kebenaran ada ditangan mereka sediri dan tidak jarang ia menuduh-nuduh orang sepertiku adalah murtad. Masyaallah aku elus sendiri dadaku.
Yang benar-benar membuatku kehabisan kesadaran adalah kleim mereka dengan menuding satu persatu tokoh-tokoh idolaku kiayi-kiayi besar panutanku semua dituduh telah murtad dan melakukan pemurtadan yang sistematis pada islam. Ia comot dalil baik hadits dan Al-qur’an untuk mengklaim dan membenarkan tuduhan mereka tentang tanda-tanda kemurtadan kami, masya Allah, aku elus lagi dadaku sambil berkata “orang pinter kok mengambil dalil kayak memulung sampah saja, ia comot kanan kiri untuk mengkleim kejelekan orang”. 
Mereka juga membenarkan jihat atas nama Allah dengan membunuh orang-orang kafir baik itu dengan mengebom atau tindakan gila yang lain, nah kali ini aku benar-benar kehilangan kesabaran, sudah lama aku tidak berhadapan dengan orang-orang seperti ini, dan yang paling membuatku jijik dan benci adalah kelompok yang semacam ini, akal sehatku belum bisa menerima hal-hal yang demikian.
Kali ini tiba giliranku untuk berargumen aku kontrol emosiku meski perasaan marah dan emosi pada kedua orang ini benar-benar membakar pola pikirku yang sudah lama menjadi pemahaman keagamaanku.
Langkah pertama yang kukatakan tidak langsung main klaim namun aku tunjukkan bahwa kerusakan agama ini disebabkan oleh dua golongan pertama yaitu juru qishah orang-orang yang menyebabkan sumber-sumber hadits maudhuk dengan cerita-cerita mistik yang disandarkan pada Islam mungkin produk modernnya seperti orang-orang yang asal comot dalil tanpa tahu sanad dan matannya untuk mengklaim kejelekan orang lain, kedua adalah orang yang tidak berilmu namun berani mengabarkan pada orang lain tanpa diskursus yang lebih lama tentang pemamahan agama.
Berikutnya aku lebih menarik perbincangan tentang humanisme dalam Islam, bagiku sudah tidak menarik lagi jika kita masih memperdebatkan masalah akidah atau ketuhanan, kalaupun tuhan saya tidak aku bela di forrum ini aku yakin kalau Ia tidak akan marah padaku, mungkin Ia akan marah jika aku mendiamkan mereka yang seenaknya berbuat kemungkaran kepada sesama manusia dengan mengatasnamakan nama Tuhan.
Ketika ku keluarkan pendapat bahwa Hukum Allah itu tidak ada, sontak semua pendengar dari kubu fundamental berteriak Allahu Akbar berkali kali dengan suara yang keras layaknya orang sedang marah-marah. Entahlah apa maksudnya memanggil-manggil nama tuhan dengan teriak-teriak apa mereka pikir Allah itu tuli, sehingga harus berteriak-teriak layaknya orang yang sedang kebakaran rumahnya. Atau mereka sengaja mengejekku dan melecehkan ku dengan teriakan Allah Huakbar. Kalau itu niatnya naudlubillah nama Allah dipakai menghina orang berpendapat. Biarlah, mungkin mereka belum pernah baca kitab Imam Suyuti tentang Adabul Hiwar.
Kukatakan lagi bahwa syariat islam itu belum final, lagi-lagi teriakan Allah Huakbar disertai dengan yel-yel Murtad! Murtad! Benar-benar membuat suasana ruangan ini tidak kondusif, bahkan ada juga yang melempar-lempar barang  tepat kemukaku, namun sebentar suasana sudah diredam oleh panitia. Mungkin inilah alasan para pemikir dan tokoh-tokoh besar yang ada di Jakarta malas jika harus menghadiri diskusi dengan orang-orang fundamental. Namun bagiku ini adalah kenyataan dan harus didiskursuskan dengan arif dan bijaksana.
Aku pikir sekali lagi, apa salahnya sebenarnya jika aku berpendapat kalau syariat Islam belum final, bukankan Nabi sendiri juga berkata seperti itu, syariat dalam artian pemahaman kita dalam menafsiri dan memahami Al-Qur’an dan hadits, bukankan Al-Qur’an sendiri juga menganjurkan kita untuk selalu berfikir, bukankah Islam sendiri juga bersifat kontekstual dan lentur.
Coba saja kita bayangkan apakah ada hukum Allah didunia ini, itu semua produk manusia hasil pemahaman manusia, ada yang hanya memahami teks secara leterlek sehingga produk modernnya kita harus menjadi negara khilafah layaknya negara islam dulu ketika dipimpim Rasulullah atau negara indonesia akan menjadi negara Islam wah bakal ribet lagi ini.  Ada juga yang memahami secara filosofi dengan asbabun nuzulnya. Kalaupun hukum Allah itu ada tentunya tidak di dunia ini tapi masih nanti, sebab hanyalah di akherat munculnya dan Ia sendirilah yang berhak memutuskan dengan maha bijaksanNnya tidak disini atau hari ini, melainkan di hari kiamat kelak. Sedangkan kita cukup memahami dan mempelajari apa yang ada di dalam Al-qur’an dan Hadits dengan akal kita, dengan pikiran dan pemahaman kita dengan disesuaikan pada tuntutan zaman.
Semakin aku utarakan pendapat-pendapatku semakin forum ini tidak kondusip ada yang mengatakan kalau aku ini iblis dan lain-lain. Mungkin aku sendiri yang harus lebih mengintropeksi hasil pemahamanku tentang agamaku.
Giliran pembicara yang ketiga adalah dari kubu pengamat keagamaan ketika moderator membacakan riwayat hidupnya aku benar-benar kaget dari riwayat pendidikannya ia adalah alumni perguruan tinggi  persis dengan kampusku dan tahun lulusnyapun juga sama, ibu Dr. Nasiah Mahanani Phd kepada beliau kami persilahkan” benar ia adalah Hana, sebuah nama yang tidak akan lupa untuk selamanya, sebuah nama yang tidak ada duanya, yah.. nama Hana ya Cuma satu ini dikampusku tidak ada yang lain aku yakin kalau itu adalah Hanaku dulu.
Tapi kuamati wajahnya tidak ada miripnya dengan Hana yang dulu kutemui, kini ia nampak besar dan gemuk, namun gaya bicaranya masih persis seperti Hana yang dulu. “dasar Hana, kau masih saja belum bisa melafalkan huruf R dengan fasih” batinku berkata saat mendengar Ibu Hana sedang memulai presentasi. Ah biarlah aku gak perlu memperpanjang pikiranku tentang Hanaku dulu, mungkin ia sendiri juga sudah lupa padaku mengingat kita sudah perpisah tiga puluh lima tahun lebih dan tidah pernah bertemu sama sekali. Kalupun kita bertemu dan ngoblol setelah acara ini selesai mungkin tidak ada lagi yang spesial seperti yang dulu,  sekedar jabat tangan, cerita-cerita sedikit layaknya teman lama yang tidak pernah bertemu, karena aku sendiri juga sudah punya pendamping mesikipun tidak secantik Hana yang dulu namun aku sangat sayang padanya tidak pernah aku merasakan ketenangan dan kenyamatan kecuali hanya dengan istriku tercinta.

WASSALAM


Kediri, Pebruari 2006
Penulis : A. Izzul Muthok

2 komentar:

  1. KARNA RASA HATI YANG GEMBIRA BERKAT BANTUAN AKI SOLEH
    MAKANYA SENGAJA NAMA BELIAU SAYA CANTUNKAN DI INTERNET !!!

    assalamualaikum wr, wb, saya IBU PUSPITA WATI saya Mengucapkan banyak2
    Terima kasih kepada: AKI SOLEH
    atas nomor togelnya yang kemarin AKI berikan "4D"
    alhamdulillah ternyata itu benar2 tembus AKI
    dan berkat bantuan AKI SOLEH saya bisa melunasi semua hutan2 saya yang ada di BANK BRI dan bukan hanya itu AKI alhamdulillah,
    sekarang saya sudah bisa bermodal sedikit untuk mencukupi kebutuhan keluarga saya sehari2
    Itu semua berkat bantuan AKI SOLEH sekali lagi makasih banyak ya, AKI
    yang ingin merubah nasib
    seperti saya.!!
    SILAHKAN GABUNG SAMA AKI SOLEH Di No:082~313~336~747

    Sebelum Gabung Sama AKI Baca Duluh Kata2 Yang Dibawah Ini
    Apakah anda termasuk dalam kategori di bawah ini.!!
    1: Di kejar2 tagihan hutang
    2: Selaluh kalah dalam bermain togel
    3: Barang berharga sudah
    terjual buat judi togel
    4: Sudah kemana2 tapi tidak
    menghasilkan, solusi yang tepat.!!
    5: Sudah banyak dukun ditempati minta angka ritual belum dapat juga,
    satu jalan menyelesaikan masalah anda.!!
    Dijamin anda akan berhasil
    silahkan buktikan sendiri
    Atau Chat/Tlpn di WhatsApp Aki: 082~313~336~747

    Angka:Ritual Togel: Singapura

    Angka:Ritual Togel: Hongkong

    Angka:Ritual Togel: Toto Malaysia

    Angka:Ritual Togel: Laos

    Angka:Ritual Togel: Macau

    Angka:Ritual Togel: Sidney

    Angka:Ritual Togel: Brunei

    Angka:Ritual Togel: Thailand

    " ((((((((((( KLIK DISINI ))))))))))) "

    BalasHapus
    Balasan
    1. KARNA RASA HATI YANG GEMBIRA BERKAT BANTUAN AKI SOLEH
      MAKANYA SENGAJA NAMA BELIAU SAYA CANTUNKAN DI INTERNET !!!

      assalamualaikum wr, wb, saya IBU PUSPITA WATI saya Mengucapkan banyak2
      Terima kasih kepada: AKI SOLEH
      atas nomor togelnya yang kemarin AKI berikan "4D"
      alhamdulillah ternyata itu benar2 tembus AKI
      dan berkat bantuan AKI SOLEH saya bisa melunasi semua hutan2 saya yang ada di BANK BRI dan bukan hanya itu AKI alhamdulillah,
      sekarang saya sudah bisa bermodal sedikit untuk mencukupi kebutuhan keluarga saya sehari2
      Itu semua berkat bantuan AKI SOLEH sekali lagi makasih banyak ya, AKI
      yang ingin merubah nasib
      seperti saya !!!

      SILAHKAN TLPN DI WHATSAPP AKI: 082~313~336~747

      Sebelum Gabung Sama AKI Baca Duluh Kata2 Yang Dibawah Ini
      Apakah anda termasuk dalam kategori di bawah ini.!!
      1: Di kejar2 tagihan hutang
      2: Selaluh kalah dalam bermain togel
      3: Barang berharga sudah
      terjual buat judi togel
      4: Sudah kemana2 tapi tidak
      menghasilkan, solusi yang tepat.!!
      5: Sudah banyak dukun ditempati minta angka ritual belum dapat juga,
      satu jalan menyelesaikan masalah anda.!!
      Dijamin anda akan berhasil
      silahkan buktikan sendiri

      Angka:Ritual Togel: Singapura

      Angka:Ritual Togel: Hongkong

      Angka:Ritual Togel: Toto Malaysia

      Angka:Ritual Togel: Laos

      Angka:Ritual Togel: Macau

      Angka:Ritual Togel: Sidney

      Angka:Ritual Togel: Brunei

      Angka:Ritual Togel: Thailand

      " ((((((((((( KLIK DISINI ))))))))))) "

      Hapus