Kamis, 12 Maret 2020

Ada Cinta di Hati Gus Irul

 

Ada Cinta di Hati Gus Irul 

Oleh:

Kang Muthok

Seperti hari - hari sebelumnya suasana pondok Mambaul Ulum berjalan seperti biasa. Sebuah pondok besar yang berada di pinggiran kota di kabupaten Jombang. Para santri sejak pukul empat pagi telah berbondong - bondong ke masjid untuk menunaikan jama'ah subuh, ada juga yang berangkat pukul tiga untuk bermunajat kepada Allah. Memang waktu sepertiga malam adalah waktu yang sangat hening untuk mendekatkan diri kepada Allah, sebuah kecintaan luar biasa antara sang hamba dengan sang kholik akan di terjemahkan dalam tindakan sujud sambil mengalirkan air mata, sebuah penyesalan luar biasa atas apa yang kemarin dilakukan.

Jama'ah subuh adalah aktivitas yang diwajibkan di pondok tersebut, dan yang tidak melaksanakan akan terkena ta'zir. Tidak heran jika setiap hari ada anak yang membaca Qur'an di depan ndalem sebelum berangkat sekolah, bukan karena dia terlalu ngefan membaca Al-Qur'an melainkan karena tidak ikut jama'ah subuh.

Apalagi empat santri yang tidak asing lagi di telinga pengurus pondok bahkan kabar ke-ndablekan-nya sampai kepada embah yai. Empat santri yang hampir tidak pernah ikut jama'ah subuh. Benar hampir tiiiidak pernah. Bahkan kabarnya ketika santri yang lain sudah bangun dan menuju rumah Allah, ke empat santri tersebut malah menuju markas. Markas adalah sebutan yang diberikan oleh mereka, yaitu sebuah tempat nyaman yang berada di atas plavon kamar pondok. Sebuah tempat yang cukup untuk melanjutkan mimpi indah mereka di pagi hari, mereka baru bangun jika sekolah pagi hampir masuk.

Gus Irul, Daib, Tabik dan Muthok, ya… itulah nama ke empat santri itu. Gur Irul nama lengkapnya Tanwirul Mubarok asal Gurah, sebuah kecamatan kecil di kabupaten kediri. Irul mendapat gelar gus karena memang dialah putra sang kiayi besar di derahnya. Daib asal Kandat tubuhnya besar dan tinggi putra juragan Roti, yang juga penggemar berat sepak bola, jadi jangan heran jika tiap kali Persik main, dia tidak pernah absen kena ta'zir. Tabik santri bertubuh subur, karena tubuhnya besar teman - teman yang lain memanggilnya dengan julukan gendut. Disamping itu juga mendapat rekor kategori pecinta bantal tidur, karena sepondok tidak ada yang bisa membangunkannya ketika batal sudah berada di kepalanya. Meski demikian, dia merupakan santri paling jago dalam urusan per-listrik-an. Sehingga tidak jarang kalau para pengurus pondok selalu meminta bantuan ketika listriknya padam, sekalipun yang membuat padam itu adalah dia sendiri. Dan yang terahir adalah muthok, Ahmad Izzul Muthok itulah nama lengkapnya. Namun, karena tubuhnya yang paling kecil diantara teman yang lain ia juga medapat julukan khusus yaitu Gepenk. Tentang latar belakangnya tidak banyak santri yang tahu termasuk ke tiga kawannya, yang jelas ia berasal dari kabupaten Nganjuk.

"Bangung…bangun……bangun Gus.., Ndut…, Penk…. Sekolah…sekolah" Daib yang sudah bangun dan baru melaksanakan sholat subha membangunkan teman-teman yang lainnya.

Setelah mereka terbangun dan sedikit cuci muka, warung kopi milik bu Sub adalah tempat singgasana pertama sebelum sampai ke sekolah. Di sana mereka bisa mengabsen satu persatu santri putri yang hendak pergi kesekolah. Warung kopi memang tempat yang paling indah untuk di singgahi oleh para santri, disamping bisa merokok dengan tenang warung kopi juga bisa dijadikan media diskusi ala santri. Tidak jarang permasalahan seputar pondok, pelajaran, bangsa dan politik kerap menjadi perbincangan. Bahkan masalah pribadipun menjadi bahan diskusi.

Di pondok Mambaul Ulum semua santrinya di wajibkan ikut sekolah formal, dari mulai tingkatan MI sampai MA. Madrsah aliyah terbagi menjadi dua yaitu madrasah aliyah negeri ( MAN ) dan Madrasah Aliyah Keagamaan Negeri ( MAKN ). Status MAKN lebih favorit dari pada MAN karena di MAKN pelajaran agama lebih diunggulkan, belum lagi tambahan bahasa arab dan inggris yang menjadi bahasa keseharian di kelas. Kebetulan Gus Irul club sekolah di MAKN otomatis status ke-siswa-annya lebih tinggi dari pada siswa yang ada di MAN.

"Kopi empat mak ! " pesan Daib pada bu Sub sang punya warung.

"Wah gila penk… kemarin aku lihat santri putri yang cuantik sekali" kata gendut memulai pembicaraan.

"Ah…kamu Ndut kaya mata kamu sudah  bisa membedakan mana cewek cantik dan tidak ?" ejek gepenk kepada gendut sambil menyalakan rokok Djarum super yang sejak tadi dipegangnya.

"Cantik mana sama yang aku lihat kemarin di depan gerbang sekolahan ? ". Sahut Daib  seakan - akan tidak mau kalah dengan apa yang telah di lihat  Gendut.

"Ya jelas cantik yang kulihat donk! Matanya, bibirnya, wah sempurna ……" jawab gendut sambil menirukan lagu favoritnya Andra, disertai dengan memainkan sapu lantai layaknya gitaris yang profesional.

"Wah kemarin aku juga melihat, mungkin malah lebih cantik dari yang kalian lihat, kacamatanya itu lho yang membuat dia semakin manis". Kata gepenk pada mereka, yang seolah - olah tidak mau tersaingi oleh ke dua kawannya.

" Siapa namanya ?" Kata gus Irul yang tiba - tiba ikut dalam perbincangan mereka. Memang biasanya kalau daib, gepenk dan gendut sedang berbicara masalah women, gus irul memilih untuk diam. Entah kenapa tiba - tiba  gus Irul merasa tertarik dengan percakapan itu.

Gendut, gepenk, daib hanya bisa diam. Bagaimana tahu namanya ? bertemu saja baru sekali, itupun juga beberapa detik. Tapi sinar wajahnya benar - benar dapat menarik perhatian ketiga sobat karib itu.

Setelah gus Irul club diskusi agak alot tentang nama santri itu, keluarlah sebuah keputusan bersama, yaitu mencari informasi tentang identitas santri tersebut.

"Hmmm… lupa jalan ke sekolah ya mas, atau kangen dengan tabokan maut ku ? Tiba - tiba suara pak Toni sang penguasa kesiswaan masuk ke warung kopi milik bu Sub lewat pintu belakang. Ke empat santri mbeling itu hanya bisa berbengong saling memandang, yang lebih parah adalah gepenk karena saking kagetnya ia tidak sadar sampai memasukkan rokok yang masih hidup ke sakunya.

Memang hari ini adalah hari senin, seperti biasa madrasah melakukan upacara bendera. Namun mereka telah sepakat tidak ikut upacara karena hal itu adalah tradisi peninggalan orde baru dan hasil ijtihad mereka menghasilkan bahwa upacara haram untuk dilakukan di era reformasi seperti ini, karena sama sekali tidak mendidik siswa. Namun karena sudah ketahuan oleh waka kesiswaan mereka harus menerima ganjarannya.

"Berdiri semua" teriak lantang pak Toni kepada ke empat komplotan yang di pelopori oleh gus Irul. Akhirnya mereka harus berdiri di depan kantor sampai jam pertama habis.

"Mau jadi apa kita di perlakukan seperti ini" gerutu gus irul kepada ketiga temannya.

"Apa kita harus berdiri di sini sampai siang?" ungkap Daib yang sudah merasa kelelahan sejak pagi di suruh berdiri.

" Benar, kita manusia bukan hewan, hukuman sih hukuman tapi jangan yang tidak mendidik seperti ini donk!" protes gepenk sambil membenahi tali sepatunya sekalipun niatnya adalah untuk istirahat sebentar.

"Gelebuk……" tiba - tiba suara orang jatuh membuyarkan percakapan mereka.

"Gendut pingsan !" teriak gus Irul kepada ke dua temannya.

Lalu gus Irul dan Daib membopong tubuh gendut yang beratnya bukan main ke kantor P3K. Sedangkan gepenk langsung menuju kantor tepat di depan dia berdiri. Entah apa yang mau dilakukanya.

Tanpa mengucapkan salam lalu ia langsung menemui pak toni waka kesiswaan yang sedang duduk - duduk nyantai di ruang kerjanya.

"Apa yang sebenarnya bapak inginkan, sampai menyiksa kami di depan kelas, kami tahu kalau kami salah tapi bukan seperti ini cara untuk menyadarkannya, yang ada malah kami muak dan jijik melihat muka bapak yang sok berwibawa ?" Protes gepenk dengan suara lantang, mungkin emosinya telah menghapus sendi - sendi ketawadhuan kepada gurunya. Entah apa karena ia sudah kemasukan iblis atau memang itu adalah cara terbaik untuk mengingatkan penguasa sekolah yang sewenang - wenang.

"Dasar iblis, anak murtad, kamu telah berani berkata seperti itu kepada saya" Jawab pak Toni dengan suara yang lebih lantang. Sambil mengayunkan tangannya tepat ke muka gepenk. "Glepaaaak……" dan tepat sasaran. Kalau sudah main tangan mungkin gepenk lebih memilih mengalah mengingat tubuhnya yang kecil.

"Mau jadi apa generasi bangsa kita kalau waka kesiswaanya perprilaku seperti bapak, kita ini siswa pak bukan binatang, bukan militer, saya butuh pendidikan yang humanis bukan militeristik seperti bapak". Jawab gepenk sambil memegangi pipinya yang memerah.

Akhirnya untuk yang kesekian kali pelanggaran yang telah di lakukan tercatat dalam buku kesiswaan dan ke empat siswa bandel itu harus mengahadirkan orang tuanya kesekolah paling lambat bulan depan.

Sesampainya di pondok mereka langsung tidur, mengingat hari ini adalah hari yang paling melelahkan bagi mereka. Bayangkan saja di suruh berdiri empat jam di depan kantor, sampai gendut pingsan.

Sore harinya mereka melakukan aktivitas seperti biasa yaitu mengulang kembali pelajaran yang telah di terima di sekolah, atau yang lazim disebut dengan Taqror.

"Gimana coy ! tentang santri misterius yang kemarin kau ceritakan, sudah tahu belum namanya ?" Tanya gus Irul kepada ketiga kawannya, disela - sela taqror.

"Wah tumben Gus kamu bertanya tentang babakan wanita ?" tanya gendut seolah - olah tak percaya dengan pertanyaan gus irul.

"Namanya Qusyairy, ya Qusyairy anak kelas 1, MAKN juga" Gepenk dengan semangat memberi kabar kepada ketiga kawannya.

"Kalau yang saya temui kemarin, namanya Tamsih , wah benar - benar cuantiiiiiiik, apalagi senyumnya wa…..h bisa klepek…klepek kamu " kata Daib yang tidak mau kalah dengan gepenk.

" Eri ….namanya Eri saya berani taruhan kalau Eri ini lebih cantik dari pada Quroisy apalagi tamsil" kata gendut sambil mengulang nama - nama santri idaman teman - temannya sekalipun dalam menyebut namanya sudah salah.

" Kalian semua sudah kenalan to ?" tanya gus irul meyakinkan.

"Belum !, tapi tahu dari teman" jawab ketiganya dengan serempak, seolah - olah sudah dikomando.

"Tahu ngak coy…kemarin waktu pulang dari sekolah aku juga sempat melihat seraut wajah yang tidak kalah cantiknya dengan santri yang kalian ceritakan. Sayang nya aku tidak sempat menanyakan namanya" cerita Gus irul kepada kawan - kawannya.

Memang sejak awal gus Irul sudah memendam rasa penasaran yang luar biasa kepada santri putri berkacamata yang sejak awal telah di lihatnya. Entah mengapa ada perasaan beda ketika pertama kali melihat tatapan matanya yang disertai senyuman tipis, dengan ikhlas yang keluar dari bibir sang jelita.

Pandangan pertama memang suatu hal yang sulit untuk di lupakan, apalagi sebuah keindahan ciptaan Allah, sugguh keagungan dan kekuasaannya untuk menjadikan manusia bermacam - macam. Pandangan pertama ibarat sebuah paku yang tertancap pada dinding, sekalipun di dicabut paku itu, lubang bekasnya tak akan hilang dengan mudah.

Sungguh keadilan Mu ya Allah kau telah menciptakan dua pasang mata untuk melihat, dua pasang telinga untuk mendengar, dua pasang kaki untuk berjalan, dua pasang tangan untuk memegang. Tapi kenapa ya Allah engkau hanya menciptakan satu pasang hati pada diriku? Mungkinkah pasangan hatiku yang lain masih kau titipkan pada orang lain ? benarkan dia ya Allah ?

Munajat tiap malam telah menghiasi keheningan malam, gus irul tetap khusuk dalam butiran doa - doa yang keluar di setiap nafasnya. Entah apa yang terjadi pada dirinya, mungkin keindahan ciptaan Allah telah mengantarkan relung kesadaranya dan menghentikan langkah yang selama ini ini jauh dari jalannya. Atau malah sebaliknya, justru ini adalah ujian bagi sang pencari ilmu sejati, sungguh sebuah delema antara cinta sejati atau nafsu birahi. Gus irul terus mencari petunjuk di keheningan sepi, tatkala teman - temannya sudah terbang melayang entah kemana.

Seperti biasa hari kamis sampai sabtu kelas 3 MAKN harus menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa percakapannya. Dan yang ketahuan menggunakan bahasa selain itu, sanksinya adalah berdiri di depan  kelas putri.

"How are you pren ?" tanya gepeng dengan cekikikan meledek gus irul yang memilih pura - pura sakit sariawan dari pada harus berbicara bahasa penjajah.

"Orang ganteng begini ko' dibilang ayu"! jawab gus irul dengan tanpa dosa. Ternyata dia tidak sadar kalau dibelakangnya ada bu titik sang guru bahasa inggris.

"would you please go to class right now !" suruh bu Titik dengan suara lantang pada gus irul yang di barengi dengan menunjuk jarinya ke arah kelas putri sebelah.

"Yes Mrs.titik !" dengan segera gus irul menjawab. Entah paham atau tidak dari perintah yang keluar dari mulut bu Titik yang jelas dia masih duduk - duduk saja.

"please now !" dengan segera gus irul pergi ke kelas 1 putri yang tempatnya lumayan jauh dari kelasnya.

Sebelum sampai di kelas putri, gus irul sudah disambut oleh santri jelita yang beberapa hari yang lalu telah ditemuinya. Entah angin apa yang mengantarkan mereka bertemu kembali yang jelas keduanya sama - sama bernasip sama.

Tatapan mata keduanya seolah - olah menuntunnya mereka untuk saling kenal lebih dekat, namun terkadang norma agama masih menjadi kabut tebal untuk saling mengenal, bahkan berpandangan.

"kena hukuman juga to mas"? tiba - tiba suara merdu dari santri berjilbab putih, telah menggetarkan hati sang pemuda bertubuh kekar, siapa lagi kalau bukan gus irul.

"I……iya…"

Suasana tiba - tiba sepi sejenak tidak ada kata yang terucap dari keduanya. Tidak ada kata - kata yang keluar dari mulut gus Irul. Keduanya hanya berdiri sambil memegangi buku bahasa inggris yang sejak tadi terlipat ditangannya.

"Namaku Tamsyi Qusyairiyah, namun teman - teman biasa memanggilku Eri".

"Irul……Eh…… gus Irul, maksudku tanwirul mubarok" menyebutkan namanya meski agak grogi, sambil memandangi pepohonan yang ada di sekitar sekolahan, tanpa sedikitpun berani melirik wajahnya.

Eri pun hanya menahan tawa kecilnya, melihat tingkah aneh dari kakak kelasnya, yang sejak tadi terus memandangi pepohonan.

Setelah hukuman selesai, seperti biasa setelah bel istirahat kantin sekolah tempat yang cukup layak dijadikan ajang curhat atas kejadian - kejadian penting yang telah dialami para siswa.

Begitu juga dengan irul club, langkah yang pertama ditempuhnya adalah memesan kopi pada mak kantin sambil makan ote - ote dan tahu isi disertai dengan rokok djarum super yang tidak pernah ketinggalan.

"Aku sudah tahu namanya friend!" kata Gus Irul dengan mantab kepada ketiga temannya.

"maksudmu santri putri yang kau ceritakan kemarin ?" kata gepenk yang mulutnya masih penuh dengan makanan kecil.

"Benar……bahkan aku tadi sempat ngobrol sebentar"

"Gimana kalau kita taruhan !, maksudnya cantikan mana dengan santri yang masing - masing pernah kita lihat ?" ajak gendut dengan yakin, bahwa santri yang pernah dilihatnya adalah yang paling cantik.

" Okrek………"ketiganya menjawab dengan serempak.

Keesokan harinya waktu jam istirahat mereka sepakat untuk masuk ke dalam kelas 1 putri, yang tidak lain adalah untuk uji kecantikan dari masing - masing santri pujaan mereka. Hasil ijtihad gus irul clup telah menghasilkan bahwa, mereka memutuskan untuk mencari santri kenalan gus irul terlebih dulu.

"Er……kamu dicari saudaramu ? kata ni'amah siswi kelas 1 yang tidak lain adalah saudara sepupu gus irul yang kebetulan juga mondok di sini juga.

"Siapa……? Jawab Eri dengan penasaran, sambil memasukkan buku dalam tasnya yang sejak tadi telah dibaca.

Muncul dari arah pintu ke empat laki - laki yang saling berdorongan untuk masuk. Gendut yang pertama kali melihatnya matanya langsung terbelalak, dibarengi dengan gepenk, kemudian Daib yang juga tidak kalah kagetnya. Bagaimana tidak kaget, orang yang mereka maksud adalah santri yang  sedang berada di hadapanya. Benar ………hanya satu orang yaitu santri kelas 1 MAKN yang tidak lain adalah Eri.

"O………tanwir, ada apa ya ?" tanya eri dengan ringan.

" Namaku Ahmad Izzul Mutok!" sahud gepenk dengan pedenya, sambil mengulurkan tangannya ke arah Eri, sekalipun gepenk adalah anggota club paling jelek diantara ketiga kawannya. Namun kepedeannya itu yang kadang - kadang membuat ia sering over ekting, apalagi untuk urusan women.

"Tamsyi Qusyairiyah, panggil saja Eri" sambil menutup kedua tanganya, tanda bahwa sentuhan bukan muhrim itu dilarang agama, sekalipun hanya sekedar berjabat tangan.

Dengan segera dan sedikit agak kecelek gepenk mengarahkan tangannya kearah Daib dan keduanya saling bersalamanan.

Sekalipun agak grogi gus Irul menjelaskan kepada eri tentang latar belakang mereka datang ke kelas 1 putri. Daib, gepenk dan gendut merasa sangat malu. Setelah masing - masing memahami akan santri yang telah menjadi penasaran mereka, kemudian semuanya kembali ke kelas.

Hari ini malam jum'at kegiatan yang ada di pondok libur total, santri diperkenankan untuk keluar malam. Namun hal itu tidak di lakukan oleh gus irul Clup, mereka lebih memilih untuk duduk di atas kamar sambil menghabiskan malam jum'at.

"Ada yang beda prend dengan perasaanku! Saat ini" kata gus irul kepada ketiga kawannya.

"Maksudmu ?" tanya daib penasaran.

"ya……sebuah perasaan beda, yang aku sendiri tidak tahu arahnya, sejak pertama kali aku bertemu dengan Eri, seakan - akan tumbuh suatu harapan yang besar padanya". Kata gus irul dengan serius.

"Ah ………itu sih biasa gus……paling juga cinta monyet, sebentar lagi juga hilang, kalau melihat santri yang lebih anggun !".  Kata daib meremehkan keseriusan gus irul.

"Ini benar - benar beda Ib, beda ketika aku suka pada khusnul waktu MTS dulu, beda dengan Laily anak haji Abdullah, aku tidak pernah merasakan hal seperti ini. Sungguh perasaanku pada Eri benar - benar beda, kalaupun saya ungkapkan pada kalian mungkin kalian tidak akan bisa memahaminya".

"Awas Gus……jangan terlena oleh bokong - bokong tidak bertanggung jawab yang akan melunturkan niat sucimu untuk mencari ilmu, jangan sampai ilmumu nanti tidak bermanfaat kalau kebanyakan memikirkan bokong. Ingat gus, kamu punya pondok yang kelak kau pimpin, apa kelak pondokmu mau kau gadaikan?". Kata gendut dengan serius sambil menirukan gaya ulama' kondang.

"Entahlah Ndut, aku sendiri juga bingung, binggung antara perasaan cinta pada sang makhluk dan takut pada Sang pencipta. Kadang aku berfikir kalau ini adalah cobaan, namun siapa yang tahu kalau ini adalah anugrah, sebuah anugrah yang telah Allah ciptakan pada makhluknya. Bukankah itu sebut nikmat dari Allah, apa lantas kita ingin mengingkari ni'mat Nya. Siapa yang mampu menolak perasaan cinta, bukankah itu sangat alamiyah sekali. Namun aku yakin kalau apa yang kurasakan ini adalah anugrah".

Daib, gendut dan gepenk hanya terdiam sambil menghisap rokok dalam dalam.

Gus Irulpun menambahkan "banyak hal yang kalian tidak tahu, tentang aku dan Eri. Ya ………sengaja aku rahasiakan pada kalian. Sebenarnnya setelah aku kenal dia sewaktu aku di hukum oleh bu titik, aku sering berkomonikasi dengan dia, meski cuma sekedar lewat surat. Ternyata Eri lebih dulu mengenal aku dari pada aku kenal sama dia. Aku lebih binggung lagi ketika dia juga suka sama aku, tapi karena perasaan malu yang besar, dipendamnya rasa cintanya padaku, dari tatap matanya sekilas aku telah melihat pancaran cahaya cinta yang sulit aku hindari. Begitu juga dengan aku, sebelum mendapat surat darinya tepatnya sewaktu dihukum bersamanya, aku merasa ada ketertarikan yang luar biasa pada dirinya. Sungguh aku suka bukan karena semata - mata Eri punya kecantikan, atau karena keindahan tubuhnya, atau semua yang ada pada dirinya yang suatu waktu bisa rusak, kecuali hanya sebuah kesucian cinta yang kelak akan kekal dan abadi. Aku merasakan bahwa dia adalah makhluk yang sangat muliya dan harus aku muliyakan. Sebuah keagungan dari ciptaan Allah yang seakan - akan telah dianugrahkan padaku, ya…untukku semata".

Suasana menjadi hening tanpa suara apapun kecuali keramaian di depan pondok, suara para santri yang sedang nonton tivi. Gepenk, Gendut dan Daib, hanya terdiam, dan meresapi sebuah hikayat cinta yang keluar dari lubuk hati gus Irul.

"Wah romantis sekali Gus !" ungkap Daib.

"Kayak tahu cerita romantis aja kamu Ib ? ini bukan rokok makan gratis, tapi sebuah kenyataan yang keluar dari relung hati pangeran kita, Gus Irul". Ejek Gepenk, sambil menyalakan rokok yang entah keberapa kalinya.

Malampun terus berlalu, cahaya bintang seolah - olah turut mendengarkan cerita hati seorang anak adam yang sedang dirundung kerinduan pada sang pujaan hati. Sebuah kenikmatan tersendiri ketika kita bisa menceritakan sesuatu yang paling berharga di diri kita kepada orang lain. Itulah naluri manusia selalu ingin mencinta dan dicintai, memang sengaja Allah memberikan anugrahnya yang besar pada manusia yaitu mempunyai pasangan hidup yang kelak dapat dijadikan sebagai teman dalam mengarungi bahtera kehidupan.

Detik berganti detik, menit berganti menit, hari berganti hari dan bulan berganti bulan. Dunia terus berputar dan perputaranya tidak akan mungkin bisa dikembalikan lagi, itulah kehidupan terus berjalan entah kapan bisa berhenti, matahari tidak akan pernah jenuh menyinari kehidupan sekalipun banyak manusia ingkar pada sang penciptanya. Seiring berputarnya sang waktu benih - benih cinta yang telah tertabur di hati gus irul kini telah tumbuh subur seiring dengan berjalannya sang waktu.

Begitu juga dengan sang pujaan hatinya, Eri hari - harinya telah dilalui dengan kekuatan cinta yang besar kepada belahan hatinya yaitu seorang pemuda anak kiayi asal Kediri. Begitulah perasaan wanita, seribu kali lebih dalam, ketika telah ditaburi benih cinta oleh sang idamannya.

Kini keduanya telah sama - sama merasakan kebesaran cinta yang telah dianugrahkan oleh Allah kepadanya. Namun, dinding norma dan tatakrama agama terkadang sulit untuk di tabrak, sehingga komunikasi batin keduanya hanya bisa dilakukan dengan telepon dan surat. Itulah cara yang paling jitu dalam menterjemahkan bahasa cinta. Pertemuan antara keduanya bukanlah suatu jalan terbaik, kecuali jika kerinduan sudah tidak bisa terhindarkan lagi. Perpustakaan adalah tempat yang paling agung dalam dunia pendidikan, sebuah tempat berkumpulnya sumber ilmu, tapi untuk sang pencinta yang tinggal di pondok perpustakaan adalah tempat melepaskan kerinduan yang terpendam cukup lama.

"Apa ! Gus Irul ke perpustakaan !" sentak gepenk kepada Daib yang sebelumnya telah menginformasikan bahwa gus irul sedang di perpustakaan.

"Benar penk, kini dia telah berubah, kebesaran cintanya ternyata telah menuntunnya pada jalan yang benar". Jawab Daib dengan yakin.

"Tunggu dulu, kita harus melihatnya dari beberapa sudut pandang, bisa saja dia ke sana hanya karena ingin bertemu Eri sang pujaan hatinya". Gendut menambahi.

"Ah…gak mungkin Gus Irul punya niat seperti itu ! kita harus berpikir husnudhan sama teman sendiri".

"Benar apa yang dikatakan Daib, jangan berprasangka buruk pada teman sendiri". Kata gepenk sambil menghisap rokok dalam - dalam.

Memang siapa yang tahu niat seseorang dalam melakukan amal kebajikan. Hanya diri kita dan Allah jualah yang tahu kedalaman, ketulusan serta keikhlasan kita dalam beramal kebajikan. Bisa saja hadirnya cinta di hati gus irul telah memotivasi dirinya untuk berubah 100%. Namun bisa juga cinta menjadi duri penghalang dalam meraih cita - cita yang luhur.

Dari kejauhan terlihat langkah gus irul agak tergesa - gesa menuju berkumpulnya ketiga sobat karibnya.

"Pangeran kita telah datang !" ucap daib sambil memberi tempat duduk pada gus irul.

"Dia mau pergi Ib" kata gus irul pada ketiga temannya, terlihat sekali wajah gus irul yang lain dari biasanya, sebuah wajah yang tidak tampak lagi ke lucuannya.

"Maksudmu, Eri ?"

"Ya…dia mau pindah pondok, sesuai permintaan orang tuanya, orang tuanya menginginkan dia menghafalkan Qur'an. Entah di pesantren mana dia sendiri juga kurang tahu. Mungkin besok dia sudah boyong dari pondok. Aku bingung Penk, kenapa seakan - akan hatiku tak rela dan tak ikhlas kalau Eri harus pindah dari pondok ini, padahal aku juga tahu kalau jalan yang ditempuhnya juga baik".

"Pindah pondok kan tidak berarti putus, Gus !" ungkap gepenk meyakinkan gus Irul.

" Benar penk ! semula aku juga berpikiran seperti itu, tapi ternyata orang tuanya telah menjodohkan Eri dengan seorang yang dia sendiri belum kenal, seorang putra kiayi pemilik pondok yang akan menjadi tempat Eri menghafalkan qur'an, itulah yang kuketahui kenapa Eri harus pindah dari pondok ini. Aku bingung penk !".

"Mungkin Eri belum menjadi jodohmu Gus ?" Sambung gendut.

"Tidak mungkin, aku yakin sekali bahwa hanya Eri lah seorang yang akan menjadi teman sejatiku kelak di hari tua, hanya Eri semata" ungkap gus irul dengan nada yakin.

Itulah kehidupan, siapa yang bisa menebak, semua berada di tangan Allah. Manusia  hanya bisa merancang, Tuhanlah yang nantinya menentukan. Namun terkadang cinta telah membutakan hati manusia akan takdir tuhan.

Bel masuk telah berbunyi siswa - siswi MAKN telah berbondong - bondong masuk ke kelas, untuk menerima ilmu yang kelak menjadi modal dalam menggapai misteri dunia dan kepastian akherat.

Kini hari - hari gus irul telah menjadi gersang, sepi dan tanpa hasrat setelah kepergian Eri, tidak ada lagi santri putri yang bisa di temuinya ketika bel pulang berbunyi sekalipun hanya melihat bayangganya, tidak ada lagi pertemuan paling bersejarah di perpustakaan sekolah setelah kepergian Eri. Bahkan perpustakaan telah dilupakan oleh gus Irul. Tidak ada lagi pancaran surya yang memancar di qalbu gus irul. Sehingga keriangan gus irul sudah terkubur oleh perasaan sedih yang tak berujung.

Ketiga kawannya menjadi bingung, melihat perubahan yang ada dalam diri gus Irul. Sudah enam bulan gus irul sering melamun, bahkan sulit untuk diajak komunikasi, dia lebih senang menyendiri dari pada harus berkumpul dengan ketiga temannya. Gepenk, gendut dan daib sudah kehabisan cara untuk menyadarkan gus irul, agar kembali pada niat semula yaitu menuntut ilmu agama disebuah penjara suci ini. Padahal satu bulan lagi Ujian Nasional tiba, jika tidak lulus mustahil bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ya… itulah sistem pendidikan nasional kita yang mengukur keberhasilan hanya pada ranah kognitif semata, entah apa signifikansinya dengan pembangunan mental generasi bangsa, yang tahu hanyalah elit saja.

Dari hari - ke hari keadaan gus Irul semakin tambah parah, gepenk yang menjadi kawan paling akrabnya berpikir keras, agar bisa mengembalikan kondisi gus Irul seperti semula, gus Irul yang lucu, kocak, berwibawa, dan cerdas kadang juga sedikit pemarah.

"Besok ikut aku gus ya ?" kata gepenk pada Gus Irul yang sedang melamun di teras depan pondok.

"Kemana ?"

"Kesuatu tempat, yang biasa ku datangi ketika mendapat masalah, nanti juga kamu akan tahu".

Keduanya sepakat untuk pergi ke tempat yang dimaksud Gepenk, sengaja mereka tidak memberi tahu daib dan gendut. Mula - mula mereka menuju surabaya untuk sowan ke makam sunan Ampel, dilanjutkan menuju  Gresik ke makam sunan Giri, tidak dilupakannya makam Mbah Asmara Qondi, Sunan Drajat dan sunan Bonang. Makam - makam kecil para Auliya' yang berada di kota yang telah mereka singgahi tidak pernah absen untuk dikunjunginya. Perjalanan tuju hari merupakan perjalanan yang cukup panjang, do'a demi do'a, tawasul demi tawasulpun tertabur pada arwah waliyullah. Semoga percikan karomah para wali dapat menyirami hati gus Irul yang telah goncang. Usaha gepenk tidak sia - sia pancaran wajah gus irul telah menunjukkan tanda - tanda kecerahan, sedikit demi sedikit hatinya menjadi tenang dan kekocakan, kelucuan, kecerdasan telah dikembalikan oleh Allah pada jiwa gus irul yang sedang kena coba-Nya.

"Aku pingin pulang penk ?" pinta gus irul pada gepenk yang sejak tadi memelototi koran kompas yang dipegang.

"Maksudmu ke pondok ?"

"Bukan, tapi pulang ke rumah, aku rindu pada abah dan ibuku"

"Oke, siapa takut !"

Keduanya menuju kota kediri tempat dimana gus irul dibesarkan, tak lupa mereka mampir sebentar ke makam mbah Wasil stono gedong, mbah Mursad Bakalan, dan terakhir ke Mbah Banteng Ngadiluwih. Setelah cukup mereka menuju kerumah gus Irul yang jaraknya tidak jauh dari makam tersebut.

Bus berhenti tepat di pertigaan arah ke rumah gus Irul. Lalu mereka memilih naik becak menuju pondok milik gus Irul. Hanya dengan naik becak atau ojek kita bisa sampai kepondok "Tahtimul Qur'an" yang diasuh oleh orang tua gus Irul. Pemandangan desa yang asri kini telah di tanami oleh bangungan - bangunan megah, sawah - sawah yang dulunya tempat mencari belut di masa gus irul kecil, kini telah berganti dengan bangunan rumah. Itulah watak manusia yang tidak akan pernah puas dalam memenuhi keinginannya.

"Berhenti pak ! " tepat di depan ndalem, gus irul memberi aba - aba pada tukang becak.

"Wah pondokmu besar juga gus !". kata gepenk

"Ah…biasa, masih besar pondokmu ko'. Ayo masuk penk ?" ajak gus irul pada gepek. Gepenk hanya mengkerutkan alisnya, dalam hatinya berkata "kapan aku pernah bercerita kalau aku juga punya pondok".

Terlihat para santri telah menundukkan kepalanya, sebuah penghormatan pada Gus, itulah resiko menjadi gus yaitu kelak menjadi penerus bapaknya mangku pondok.

"Eri……itu……Eri Penk !" teriyak gus irul sambil menunjukan tangannya kearah gerumulan santri putri, ketika melihat santri berkerudung putih sedang memegang seperangkat alat shalat.

"Waduh kumat lagi ini" kata gepenk lirih seakan tak percaya dengan apa yang sedang dilihat oleh gus Irul.

"Lho kamu sudah kenal Eri to le ?" tiba - tiba suara lelaki setengah tua terdengar dari belakang mereka berdiri. Lelaki itu tidak lain adalah kiyai Mustofa Abah gus irul. Diciumnya telapak tangan tanda ketawadhuan sang anak pada abahnya.

Mereka kemudian masuk ke dalam Ndalem kediaman, berkumpullah semua keluarga gus Irul termasuk ibu, adik, dan abahnya, yang telah menyambut kedatangan sang putranya setelah hampir satu tahun tidak bertemu. Abah gus irul kemudian memulai percakapan ringan seputar keadaan anaknya yang tinggal di pondok Jombang. Kemudian abahnya juga bercerita tentang perjodohanya dengan putri seorang kiyai dari Blitar yang tidak lain adalah Eri lengkapnya Tamsyi Qusyairiyah. Tanpa sepengetahuan sang abah Eri adalah santri anggun yang telah mengisi hati gus Irul satu tahun yang lalu, dan perasaan itu sampai kini masih di bawanya. Gus irulpun sangking girangnya juga menceritakan kejadian kejadian indah bersama Eri, bu titik yang telah mengenalkan dia, perpustakaan tempat terindah dalam mengukir sejarah cinta, surat sebagai media paling ampuh dalam mengutarakan bahasa cinta, dan sejuta keindahan - keindahan lain yang telah di lalui oleh mereka berdua tanpa menabrak dinding norma agama. Namun gus irul masih malu - malu ketika harus menceritakan kejadian yang terjadi pada dirinya ketika Eri harus pindah dari pondok Mambaul Ulum.

Kalau sudah begini siapa yang tahu ? mungkin inilah jodoh yang telah digariskan oleh Allah pada sang makhluknya, sebuah anugrah yang besar, sebuah keagungan Sang Maha pencipta. Betapa bahagianya hati gus Irul, kabar kebahagiaannya mungkin tidak cukup di diskripsikikan sekalipun 100 lembar folio habis hanya untuk mengungkapkannya.

"Wah anak ibu ternyata juga sudah mengenal cinta to dipesantren ? ledek sang ibu kepada gus Irul. Gus irul hanya tersipu malu sambil menundukkan wajahnya.

"Saya panggil Mbak Eri bu ya ?" Airin  adik gus irul berkata kepada ibunya, sambil berjalan menuju pondok putri yang letaknya tepat dibelakang ndalem.

Gus irul hanya cengingas - cengingis tidak tahu ungkapan apa yang harus dikatakan ketika bertemu dengan Eri. Apa kabar ? halo ? ko disini ? atau hanya diam - diam saja, mungkin inilah yang sekarang dirasakan oleh gus Irul.

Tiba - tiba seorang santri putra datang dari arah pintu depan menuju ruang tamu Ndalem.

"Anu Yai……Becak gus Irul belum dibayar ! "

                                                                                          Kediri, 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar